Rabu, 04 Februari 2009

manusia antara

Syahdan, beberapa masa setelah hijriah, kumandang perang 

bertiup di barisan kaum muslimin untuk berjihad dalam 

perang tabuk. Rasa-rasanya, tak ada yang tak ikut. tua, 

muda, semua sahabat rasul berlomba mengambil shaf 

terdepan. Cuma, kali ini ada yang aneh. diantara pasukan 

muslimin, tak tampak wajah seorang sahabat senior, Kaab 

bin Malik muncul hingga berakhirnya perang. 
semua bertanya. kemana kau Kaab? bersama dengan beberapa 

sahabat yang absen lainnya, ia menghadap rasulullah. 

kira-kira, ia berkata,"ya rasulullah, seandainya bukan 

kau yang kuhadapi, sungguh aku akan berdalih karena aku 

diberikan kemampuan untuk itu. namun aku tak kuasa. aku 

mengakui ketidakhadiranku untuk berperang disisimu tidak 

ada sesuatu uzur apapun selain menunda-nunda."
Kejujuran Kaab mendapat ujian. sahabat yang ahli berdebat 

ini diasingkan dari pergaulan kaum muslim. tak ada yang 

mau berbicara dengannya bahkan sekadar isterinya. sampai

-sampai ia berkata,"dunia seakan sempit menghimpit."
namun singkat kata, pada akhirnya Kaab dimaafkan. ia 

terbebas dari keterasingan. 

Bagaimana dengan orang-orang selain kaab yang tak hadir 

dalam peperangan?dalih mereka meyakinkan orang-orang 

bahwa karena uzur mereka tidak berperang. mereka 

termaafkan tanpa hukuman. 
Mereka dijuluki manusia antara, tidak mu'min dan enggan 

mengatakan bahwa mereka adalah kafir. Dahulu sifat ini 

mulai menjangkit tatkala kaum muslimin hijrah ke Madinah. 

terdapat fenomena dimana orang-orang yahudi menjadi 

muallaf demi tujuan mendengar strategi kaum mukmin. cuma 

setelah kembali kepada kaumnya, mereka kembali menjadi 

Yahudi.

kalau mau jujur, sifat antara' yang dalam bahasa kuran 

disebut munafik ini sungguh sering kita temui di sekitar, 

dalam berbagai tingkatan.
sederhana saja, lihatlah seorang Ketua DPRD SUMUT yang 

baru saja tewas di keroyok massa di Medan sana. Almarhum 

Abdul Aziz Langkat tewas dikeroyok tatkala memimpin 

sidang paripurna. 
ketika itu,massa atas nama demokrasi beranjak masuk ke 

dalam gedung untuk memaksakan adanya pemekaran di wilayah 

mereka. bagi mereka, prinsip demokrasi nomor satu adalah 

suara terbanyak. Logika sederhananya adalah bukankah 

suara rakyat Tapanuli yang banyak itu sudah mewakili 

prinsip tersebut? Lucunya, para pengusung prinsip 

tersebut lupa bahwa dalam demokrasi, ada pula prinsip 

representasi dimana suara mereka diwakilkan oleh para 

wakilnya di parlemen berdasarkan pemilu. dengan 

memaksakan suara mereka terlebih sampai menyebabkan wakil 

yang mereka pilih sendiri tewas, tidakkah mereka 

berkhianat terhadap prinsip yang mereka usung sendiri?
mungkin, kita semua rindu terhadap kepribadian seorang 

kaab yang mengatakan sesuai dengan apa yang ia lakukan. 

wallahu'alam.

Tidak ada komentar: