Jumat, 06 Februari 2009

atas nama laba

kawan, aku ingin berkisah. Pagi tadi aku menghadiri sebuah acara talkshow di festival ekonomi syariah. judulnya, "lupa",tapi kontennya tentang konsep hunian untuk membangun masyarakat muslim. aku tertarik - "Gini-gini juga pernah ngurus propertinya kontan bos"- dan mulai mencatat. batinku berangguk dengan gerak tangan. kira-kira ia berkata.."oh, tentang apartemen","ooh,apartemennya ada pengajiannya","ooh tata bangunan ranjangnya ditata agar sang petidur bisa menghadap ke kanan", dan oooh,oh lain seperti menghadap kiblat, konsep sandal nabi orientasi wc ke utara-selatan (menghindari barat-timur untuk menghormati kiblat).

kreatif..tukasku sembari menulis beberapa list ihwal untuk kutanyakan nanti dalam termin Q and A. tapi hal buruk terjadi. dahiku mulai mengernyit setelah distimulus oleh gambar apartemen almedina dengan dua tower yang menjulang tinggi di kawasan selatan Jakarta. "mewah" ujarku singkat. tapi yang membuat dadaku bergidik adalah ketika mereka mulai membacakan ayat-ayat justifikasi. seperti anjuran untuk berjamaah, membangun komunitas muslim dan sebagainya.

 disinilah dialektika dimulai. aku protes. "sial".  hampir teriak  tapi aku tahan. rangsangan itu rupanya semakin menjadi "tahukah bapak2 ibu2?mansion2 mewah yang bertebaran itu 50%nya adalah orang-orang muslim, jadi muslim juga bisa tinggal di lingkungan berkelas". aku semakin menggarukkan kepala. pertanyaan2 itu muncul bertubi-tubi menghujam ke kepala. "Bapak atau biasa dipanggil ustad, baik benar anda menjual apartemen mewah untuk muslim kaya. anda rupanya hendak mengumpulkan para eksekutif muslim untuk tinggal di dalam satu apartemen sehingga kesalehannya terjaga. Memang, kesalehan mereka terjaga,nyaman,aman. tapi tahukah anda, itulah yang akan membunuh mereka sebagai sesama. membuat kaki mereka jauh dari orang lapar,cacat dan para mustahiq karena asik tenggelam dan tertidur dalam komunitas mereka. konsep seperti ini tak ubahnya seperti tabiat para investor yang enggan mengotori tangannya di dalam lumpur riil. mereka hanya mau berbersih-bersih didalam moneter, berinvestasi di derivatif, reksadana, saham atau bagi para penyali rendah menghimpun uang pada kencleng DPK. Tak peduli, mati."
tambahan : aku rasa, hari itu Alquran sedang menangis karena ayat-ayatnya sedang dipermainkan untuk berjualan. kemuliaannya dihinakan oleh orang2 berjanggut,orang2 bersorban. "Ayolah kawan, tidakkah bangunan terlalu tinggi itu akan mengurungmu dalam penjara sehingga tanganmu sulit terulur?" belum lagi mereka selesai berjualan, aku pergi lunglai, kecewa, rupa-rupanya ada ayat yang dibacakan atas nama laba. 

 

Tidak ada komentar: