Jumat, 14 Maret 2008

Tetap Bergizi di Tengah ‘Resesi’

Malam itu, Titin bergegas mencari warung. Warga Condet Jakarta Timur itu tengah bingung lantaran harus memilih mana lauk yang sesuai untuk teman makan keluarganya. Bukan warung tegal atau warung padang yang ia pilih, Titin lebih suka warung gorengan. Karuan saja perempuan setengah baya itu beropsi demikian, uang di genggaman yang tinggal lima ribu rupiah menjadi soal. Dengan modal seadanya, Titin harus pandai-pandai agar ia dapat memenuhi makan malam suami, anak dan cucunya di hari nestapa itu. Standar gizi yang sejak dulu rendah pun kini harus disesuaikan kembali demi kelangsungan hidup keluarganya. Harga bahan makanan dan minyak goreng yang melonjak, menjadi pemicu utama.

Titin tidak sendirian. Simak saja penuturan ibu rumah tangga di surat kabar, televisi dan radio. Mereka mengeluhkan tingginya harga bahan makanan seperti tahu dan tempe yang sejak dahulu menjadi andalan dalam memenuhi asupan protein di kalangan keluarga menengah ke bawah. Harga minyak goreng dan minyak tanah yang semakin melambung juga menjadi alasan pembenar mereka untuk menurunkan standar gizi.

Bukan hanya itu, yang cukup mengiris dada adalah saat ini, begitu banyak berita yang menayangkan anak balita yang mengalami penyakit gizi buruk karena asupan gizi yang kurang. Juga, tidak jarang kita melihat masyarakat di daerah yang mengonsumsi nasi bekas yang dijemur kembali untuk dijadikan beras, yang mereka sebut aking.

Sekadar pengetahuan, tingkat konsumsi rakyat Indonesia per kapita tiap tahun – kecuali beras – bila dibandingkan dengan negara lain untuk berbagai produk pangan penting yang sebenarnya merupakan sumber asupan gizi masih sangat rendah. Mantan Ketua HKTI, Siswono Yudo Husodo menyebutkan rakyat Indonesia mengonsumsi telur 3,48 kg/kapita/tahun (Malaysia 17,62 kg, dan Filipina 4,51 kg), daging 7,1 kg/kapita/tahun (Malaysia 46,87 kg, dan Filipina 24,96 kg) kemudian ikan 26 kg/kapita/tahun (Malaysia 45 kg dan Jepang 70 kg).

Tidak cukup dengan itu, konsumsi sayuran bangsa kita ternyata juga menyedihkan. Tercatat rakyat Indonesia cuma mengonsumsi sayuran 37,94 kg/kapita/tahun, jauh di bawah standar FAO 65,75 kg setara dengan tingkat konsumsi susu rakyat Indonesia yang baru 6,50 liter kapita/tahun, sementara India telah mencapai 40 liter .

Mengenai kondisi ini, ahli gizi berbasis makanan tradisional, Prof. H.M. Hembing Wijayakusuma, mengatakan menurunnya standar gizi yang terjadi di masyarakat, merupakan akibat dari naiknya harga kebutuhan pokok sembako, termasuk sayuran-sayuran, yang dipastikan berimbas terhadap daya beli masyarakat terutama masakan menengah ke bawah. “Bukan tidak mungkin mereka tak lagi memperhatikan apakah makanan yang dimakan memberikan asupan gizi bagi tubuhnya, yang lebih diutamakan adalah memenuhi kebutuhan makan sehari-hari atau asal kenyang”, ungkapnya

Kondisi ini diperparah dengan pola hidup tidak higienis yang masih menjangkiti masyarakat Indonesia. Memburuknya kondisi lingkungan akibat tingginya pencemaran atau polusi di berbagai aspek kehidupan, di darat, laut mau pun udara. ”Karena kondisi demikian, saat ini tidak mudah mendapatkan atau menciptakan pola hidup yang higienis”, tutur Hembing.

Hembing sendiri mengartikan higienis sebagai bersih, bebas dari penyakit. Menurutnya, pola hidup yang higienis adalah sebagai salah satu bagian dalam upaya untuk mencegah masuknya sumber penyakit ke dalam tubuh. “Hal tersebut dapat diperoleh dengan menerapkan dan menjaga kebersihan baik sumber penyakit yang terlihat maupun yang tidak dapat dilihat mata misalnya kebersihan dalam proses pengolahan makanan, masakan, minuman, atau produk lainnya termasuk lingkungan”, ujar Hembing.

Selain itu, maraknya bahan kimia berbahaya yang ada di dalam makanan-makanan instant atau olahan yang masih gemar dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia menambah merah nilai rapor gizi bangsa ini. Sebutlah cemilan anak seperti ciki dan keripik yang menggunakan bahan pengawet yang amat digemari anak-anak dibanding makanan rumah. Padahal tanpa mereka sadari, dibalik berbagai macam jajanan tersebut terkandung ancaman bagi kesehatan.

Profesor yang juga merupakan pakar pengobatan tradisional ini kemudian menjelaskan aneka jajanan yang biasa dijumpai di rumah maupun di lingkungan sekolah seperti fast food, makanan instan, soft drink, snack, permen, es, minuman segar, gulali, goreng-gorengan, dan sebagainya mempunyai kualitas makanan yang terkadang sangat buruk karena proses pembuatan yang tidak higienis dan menggunakan bahan dengan standar gizi rendah atau bahan kimia. “Misalnya saja penggunaan bahan tambahan sintetis dan bahan kimia penyedap rasa, pewarna, pengembang, pengempuk, pengawet seperti: MSG, rhodamin b, boraks, formalin, dan sebagainya”, ujar Hembing.

Hembing mengeluhkan tentang kebiasaan mengonsumsi jenis makanan yang miskin gizi tersebut mengakibatkan anak-anak kekurangan gizi kronis. “Terlebih lagi bila pola makan yang demikian telah dilakukan sejak anak usia pra sekolah hingga usia remaja. Pengaruhnya bisa secara langsung dirasakan ataupun pada masa-masa mendatang”, ungkapnya.

Kembali mengenai masalah kesulitan ekonomi, Hembing mengungkapkan bahwa hal itu bukanlah alasan untuk tidak memperhatikan pola makan yang sehat. Pria keturunan tianghwa ini menjelaskan bahwa sebenarnya banyak makanan bergizi terdapat pada aneka bahan makanan yang bisa didapatkan di lingkungan sekitar dan harganya pun terjangkau. Hembing menyebut bayam, kangkung, sawi, wortel, buncis sebagai misal.

Akan tetapi, ia mensyaratkan proses pengolahan bahan makanan tersebut sebelum dikonsumsi. “Bila proses pengolahannya tidak benar misalnya terlalu matang saat dimasak, sayuran direndam dalam air sebelum dimasak, sayuran telah rusak atau tidak segar, hal tersebut tentunya akan mengurangi atau merusak kandungan gizinya bahkan gizinya hilang, bahan makanan mahal dan bermutu tinggipun bila proses pengolahannya salah kandungan gizinya akan rusak bahkan hilang”,jelas Hembing.

Selain itu, Hembing menganjurkan agar masyarakat meningkatkan kreatifitas dalam pengolahan makanan, seperti mengurangi atau menghindari olahan makanan yang digoreng. Manfaatnya selain untuk menghemat minyak goreng, mengurangi kolesterol, lemak juga penghematan energi atau bahan bakar.

Ia pun menyarankan untuk mengubah dan memvariasikan pengolahan masakan menjadi lebih praktis dan cepat seperti dengan cara dikukus, direbus, di tim atau dimakan mentah sebagai lalapan. Untuk pemenuhan asupan protein, Hembing menerangkan dapat diperoleh dari tahu, tempe, telur atau ikan yang harganya lebih terjangkau dibandingkan daging sapi atau ayam.

Lebih jauh, Hembing menjelaskan bahwa sehat merupakan perintah agama. Menurutnya, untuk menjaga kesehatan dan membersihkan manusia dari racun yang terdapat di dalam tubuhnya, Islam memberikan beberapa tuntunan : seperti hadist yang menyatakan bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman (H.R.Muslim), anjuran untuk beristirahat yang cukup seperti yang tertera dalam Q.S. Annaba : 9, “dan kami telah jadikan tidur kamu untuk istirahat” dan hadist yang memerintahkan agar berobat bagi yang sakit, “Sesungguhnya Allah tidak menurunkan suatu penyakit melainkan menurunkan pula obatnya, maka berobatlah (H.R.Nasai)”.

“Islam senantiasa mengajarkan kebaikan kepada umatnya termasuk juga memberikan tuntunan penganutnya mengenai kesehatan yang terdapat dalam kitab Al Qur’an”, jelas Hembing.


Tips memenuhi kebutuhan gizi secara hemat :

1) Membeli dan mengolah masakan dengan bahan makanan yang harganya terjangkau misalnya dengan memanfaatkan sayuran-sayuran. Jenis makanan tersebut memiliki gizi tinggi, berserat, antioksidan dan antikanker yang dibutuhkan tubuh misalnya sayuran hijau seperti buncis, kacang panjang, bayam, daun singkong, daun pepaya dan sebagainya. Selama ini jenis makanan tersebut sering diabaikan, padahal besar sekali manfaatnya tubuh.

2) Meningkatkan kreatif dalam pengolahan makanan misalnya mengurangi/menghindari olahan makanan yang digoreng, selain untuk menghemat minyak goreng, mengurangi kolesterol, lemak juga penghematan energi/bahan bakar .

3) Ubah dan variasikan pengolahan masakan menjadi lebih praktis dan cepat misalnya dengan cara dikukus, direbus, di tim atau dimakan mentah sebagai lalapan.

4) Kembali ke makanan tradisional misalnya konsumsi sayuran segar atau dikukus yang diolah menjadi asinan, salad, gado-gado, pecel, lotek. Jenis makanan dapat diperoleh dengan harga terjangkau namun sehat dengan asupan gizi seimbang. Sebelumnya mungkin lebih banyak mengkonsumsi masakan tumisan, gorengan, berkuah santan dan pedas

5) Untuk pemenuhan asupan protein dapat diperoleh dari tahu, tempe, telur atau ikan yang harganya lebih terjangkau dibandingkan daging sapi atau ayam

6) Perhitungkan dengan baik saat memasak jangan berlebihan sesuaikan dengan kebutuhan orang yang akan makan sehingga tidak mubazir.

7) Tekan pengeluaran biaya untuk makan dengan membatasi atau meninggalkan pengkonsumsian makanan olahan, fast food seperti nugget, ayam goreng, ham, sosis, dan sejenisnya. Jenis makanan tersebut selain mahal juga miskin gizi harganya pun mahal.

Tidak ada komentar: