Senin, 07 Januari 2008

peran

‘Dunia ini panggung sandiwara, ceritanya mudah berubah. Ada peran wajar dan ada peran berpura-pura’.


Kutipan tembang lawas milik penyanyi senior Ahmad Albar memberkas, memberi renung di dalam relung. Sepakat jika diibaratkan dunia sebagai panggung sandiwara yang terdapat peran aktor-aktor didalamnya. Karena peran, menurut penulis adalah kata ganti manusia. Merujuk pada istilah dee dalam ‘Supernova: Ksatria, puteri dan bintang jatuh’; opto ergo sum lebih tepat dibanding cogito ergo sum, atau manusia bertindak maka manusia ada lebih tepat dibanding manusia berpikir maka manusia ada. Tindakannya di alam nyata itulah yang melahirkan manusia bukan hanya ide-idenya yang masih ada di dalam kepala. Tindakan manusia menjadikannya sebagai aktor yang memegang peran dalam setiap episode kehidupan. Pratagonis, antagonis atau hanya sebagai figuran.


Dalam pengertiannya di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka, peran didefinisikan sebagai seperangkat tingkat yang diharapkan dimiliki oleh orang yang berkedudukan dalam masyarakat. Satu kata kunci, masyarakat, menjadi penyangga utama definisi ini. Peran akan kehilangan fungsinya ketika menafikkan masyarakat yang merupakan habitat. Oleh karena di dalam dunia realitas, manusia tidak hidup sendiri. Ia adalah mahluk sosial yang harus berdialog. Terjadinya interaksi antar individu atau individu dengan kelompok atau dengan koloni merupakan syarat mutlak pengejawantahan dari peran.


Kata itu kini menjadi tanda tanya yang beralamat pada insan intelektual kampus bernama mahasiswa. Dulu, ketika negeri ini masih gelap, meski sudah mendapat julukan negeri merdeka, mahasiswa membawa obor dengan bara ilmu pengetahuan dan berkayu moral. Mereka melawan tirani para penguasa yang sungguh tidak sesuai dengan kaidah akademis di kampus yang demokratis dan kritis.


Lagipula, rakyat turut menjadi korban akibat kesewenang-wenangan para penguasa. Dua contoh rezim menjadi catatan merah bagaimana mahasiswa memenuhi peranannya. Bung Karno yang lebih suka berpolitik dan berbicara mengenai hal-hal ideologis seperti nasakom dan manikebu sementara rakyat di luar lapar dan butuh makan. Juga Pak Harto, Jendral besar yang terus mendewakan stabilitas demi lancarnya pembangunan kemudian meninggalkan demokrasi dengan membungkam kebebasan berpendapat


Mahasiswa bergerak mengambil peran menjadi oposan. Pada masa Bung Karno, angkatan ’66 mengambil peran itu. Mereka berteriak-teriak mengenai Tritura berisi tentang pembubaran PKI, menurunkan harga dan sidang istimewa yang beralamat kepada suksesi. Pada Sidang Istimewa MPR 1968, Proklamator yang dulu menjadi pahlawan harus turun tahta. Pembelaannya yang bertajuk nawaksara ditolak mentah-mentah. Mahasiswa ‘berhasil’ menggantikan rezim Soekarno dengan Jendral Soeharto yang kala itu dielu-elu sebagai pahlawan baru setelah peristiwa Gestapu.


Setelah 32 tahun masa pembangunan Pak Harto, mahasiswa mengusung satu tema besar, raformasi! Lagi-lagi kaum yang dikatakan Anhar Gonggong dengan julukan terdidik tercerahkan itu berkelahi dengan tirani. Ribuan anak muda beralmamater berkumpul di Gedung DPR/MPR di senayan sebagai bentuk tuntutan agar jendral besar Soeharto mengundurkan diri. Mereka sukses. Dalam pidatonya di pagi, 22 Mei 1998, bertempat di Istana Merdeka, Soeharto menyatakan lengser ke prabon.


Kini masa itu telah berganti. Demokrasi yang menjadi tema besar dalam setiap tuntutan sudah dapat dinikmati. Pemerintahan sudah jauh lebih demokratis, parlemen yang dulu dikatakan impoten sudah semakin kuat, malah terlalu kuat. LSM juga tumbuh dimana-mana. Jangan ditanya tentang kebebasan pers. Masyarakat jurnalisme kini bebas menulis apa saja, melaporkan apa saja. Tidak hanya itu, kini dengan perkembangan teknologi digital, ruang berita tidak hanya menjadi hak monopoli wartawan, warga biasa pun dapat menjadi jurnalis.


Memang masih saja terjadi korupsi yang dilakukan oleh berbagai pejabat, entah negeri atau swasta, illegal loging yang menghabisi hutan-hutan, penegakan hukum yang setengah-setengah, hingga negara yang melemah dan membiarkan kedaulatannya diacak-acak negara tetangga. Akan tetapi, kesemuanya itu bersifat sporadis dan tidak melembaga. Kejahatan dan hal-hal buruk yang dilakukan, bisa dikatakan tidak secara formil menjadi kebijakan pemerintah. Dampaknya,, mahasiswa kehilangan sparring partner nya di ring tinju. Tidak ada pemerintah tirani sebagai musuh nyata yang harus diberantas di depan mata.


Sekarang apa peran mahasiswa? Cukupkah dengan menikmati anggur kemenangan karena demokrasi yang dulu dijerihpayahkan sudah dapat dinikmati? Bila dahulu ia mengambil peran sebagai oposan karena pemerintah yang tiran lalu bagaimana dengan kini dan bagaimana dengan nanti?

Seperti dalam panggung sandiwara, peran pun dapat berubah sesuai dengan konteks – ruang dan waktu – episode yang dimainkan. Akan tetapi yang pantas menjadi catatan, perubahan peran ini hanya sebagai modifikasi, tidak masuk sampai ke ranah substansi.

Seorang ayah boleh menjadi laki-laki lucu di depan anak-anaknya tetapi tidak ketika ia bekerja. Di kantor, ia akan merubah peran ayah menjadi seorang karyawan suatu perusahaan. Lalu puluhan tahun kemudian, ia akan berganti peran menjadi seorang pensiunan dan seorang kakek dari cucu-cucunya yang tentu merupakan satu fase hidup yang berbeda dari sebelumnya.


Peran kaum terdidik-tercerahkan dalam masyarakat juga tidak dapat lepas dari konteks ruang dan waktu. Meski sekarang lembaga tirani sudah menjadi almarhum dan kehidupan demokratis sudah dapat dinikmati, hakekat mahasiswa sebagai agent of change dalam masyarakatnya harus terus dijalankan, tentunya dengan pola yang dimodifikasi. Jika dahulu rakyat butuh pemuda-pemuda pembebas yang garang dan rela mati melawan tirani, kini mereka lebih butuh sosok resi yang mampu mencerahkan mereka dari kebodohan, dapat menjadi inspirasi dalam melawan kemiskinan


Ingat, masih ada 20% orang miskin di republik ini (versi BPS sedangkan 40% versi bank dunia). Jangan hanya karena tidak adanya lawan tanding lalu mahasiswa terbuai dengan buku-buku, dan hanya larut dalam kegiatan laboratorium. Atau kalaupun pergi ke dunia organisasi, pelajaran dari event organizer lah yang sekarang lebih dicari. Rakyat butuh mahasiswa. Mereka mendambakan resi yang kini duduk terbuai di menara gading universitas, untuk sudi menurunkan tangannya, mencerdaskan mereka.


Sekitar tahun 1970-an, cendikiawan muslim asal Iran, Ali Syari’ati mengajarkan mahasiswanya tentang langkah pertama yang harus dimulai kala menghadapi masyarakat yang sedang berada dalam proses berkembang dari suatu kondisi ke kondisi yang lain. Ia menyebut pembangunan satu jembatan komunikasi yang kokoh antara rushan fekran yang berarti kaum intelektual dengan masyarakat.


Ali syariati menganggap rakyat jelata memandang kaum intelektual adalah orang-orang yang tinggal di pulau yang indah, berharga dan misterius sementara pulau itu mereka ongkosi dan dukung perkembangannya. Ironis, kaum jelata tidak dapat memasuki pulau indah tersebut karena terdapat laut curam yang menjadi antara dengan tempat tinggalnya. Maka, harus ada satu jembatan untuk membuat mereka saling berkunjung sehingga dua kutub di tempat yang berbeda, kutub teori di pulau intelektual dan kutub praktik pada masyarakat dapat bersinergi.


Kemudian Ali Syariati bertanya kembali, “siapa yang harus mulai?”. Ia menjawab lagi pertanyaannya dengan jawaban sederhana. “Orang-orang yang tercerahkan”, tanpa embel jelata atau intelektual.


Tidak ada komentar: